Tolong katakan sesuatu yang mampu menentramkan hati yang bergemuruh. Tolong katakan sesuatu agar kepala yang berat ini jadi ringan dipapah leher. Tolong katakan sesuatu agar yang rumit kusut menjadi lurus. Tolong katakan sesuatu agar aliran darah yang terlalu deras ini bisa tenang dan fokus. Tolong katakan sesuatu sebagai pembuka jawab bagi segala tanya. Tolonglah katakan sesuatu…
Katakanlah, “ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang”
Mengungkap keinginan atau pendapat atau tujuan kepada ‘orang lain’ itu nampaknya lebih mudah ketimbang sama keluarga sendiri. Kita maunya apa, mereka maunya apa. Dan keduanya sama-sama tarik-tarikan urat leher. Kadang-kadang ngobrol biasa kayak lagi berantem, nada suaranya naik dua oktaf semua. Tapi setelah itu malah menuai tawa. Begitulah. Tapi yang jelas sayanya capek! Idealisme sedang diuji. #yakale
Sebelum azan subuh, saya bergegas menyelesaikan rangkuman data peserta dan tulisan kompetisi blog kemarin. Segera subuhan kemudian bersiap sepedaan. Ya, pagi ini rencananya mau sepedaan aja, bosen jogging. Treknya masih sama seperti jogging; veteran-sudirman-dempo. Ketika sudah dekat dengan rumah, hari tampaknya belum terlalu terang. Lalu saya mau mencoba sepedaan di komplek ruko Apat. Dulu saya juga sering sepedaan di sini. Tapi itu dulu baru-baru ada ruko dan sudah lama. Dulu ada 3 ekor anjing yang suka keliaran. Anjing hitam, anjing belang hitam-putih, dan anjing orange.
Hari ini, setelah sekian lama gak muter-muter di komplek ruko itu, ada seekor anjing belang yang menggongongi saya dari jauh sejak saya di belokkan. Saya tetep cool aja pelan-pelan. Eh si anjing makin jadi gonggongnya, kali ini sambil berdiri dan kemudian berlari. Secepat mungkin aku berusaha menggowes pedal sepeda. Tapi si anjing berhasil menggigit betis kiriku. Dan aku berteriak! Untung saja sudah diujung belokan, dan ada satpamnya. Si satpam segera bangkit dari duduknya dan senyum-senyum nahan tawa. Saya yang kaget, gemeteran, dan juga ketawa, kemudian langsung chaw dari ruko-ruko itu. Gak lagi deh muter-muter di ruko itu, anjingnya makin ganas. Gigitan si anjing gak sampai melukai kulitku karena celana panjangku cukup tebal. Tapi tetap mesti di cuci dengan 7 basuhan air yang salah satunya dicampur tanah. Najis mughallazoh, najis besar.
Jelas, itu bukan foto hasil karya saya. Dari milis yang saya ikuti sedang ada diskusi tentang teknik pengambilan foto. Jujur saja, awalnya saya melihat foto ini editan karena melihat pendaran cahaya lampu di air Sungai Musi tampak soft banget. Tapi ternyata saya salah. Foto ini asli, dijepret dengan teknik tertentu tanpa editing.
Menurut penjelasan, foto itu dijepret menggunakan teknik “Slow Speed”. Artinya, cahaya yang masuk “membakar” sensor kamera diatur deangan durasi beberapa detik. Umumnya, speed yang digunakan untuk pemotretan dengan teknik ini adalah 15-25 detik. Oleh karena itu, teknik ini membutuhkan dudukan kamera yang stabil seperti tripod atau media lain sebagai penyangga kamera.
Efek yang dihasilkan dari teknik ini adalah “star effect” atau “star light” bila di ruang foto terdapat sumber cahaya seperti lampu. Selain teknik tersebut, “slow speed” bisa menggunakan speed lambat yang “agak cepat”. Umumnya speed yang digunakan adalah 1-3 detik. Mengapa disebut speed lambat namun agak cepat? Karena dengan penggunaan speed antara 1-3 detik tersebut, seorang fotografer masih mampu menopang kameranya hanya dengan tangan tanpa membuat hasil foto bergoyang (shake).
Berikut contoh foto dengan speed lambat yang agak cepat, diambil dengan kamera poket tanpa editing.
Maher Zain tahun ini rilis album baru. Keren banget. Dan menurutku lebih terkonsep. Maher Zain kelihatan lebih nginclong dan lagu-lagunya lebih universal tapi tetap mengandung makna-makna islami. Ini nih yang paling saya demenin. Jadi kangen mama terus. Waktu pertama kali dengernya aja aku mewek, bukan nangis karena liriknya yang sedih. Mewek karena apa yang diungkap dalam lirik tersebut belum sempat saya lunaskan pada Mamaku.
Masuk di pekan premenstrual syndrome ini banyak sekali lontaran keluhan, ada yang terucapkan, ada juga yang masih mengganjal hati. Dan waktu berjalan semakin lambat. Fokus masalahnya sih ada di diriku sendiri untuk pengendaliannya. Tapi hormon estrogen yang lebih tinggi itu diluar kendaliku. Jadi agak sedikit ada kecemasan, gak sedikit sih sebetulnya, ya lumayanlah. Apa kabar kamu? ya kamu? Aku berusaha keras agar tidak mengeluh, jangan-jangan keluhan ini sendiri hanya ilusi. Ah, bersabar dari keluhan memang agak sulit. Lebih baik mempersibuk melatih diri sebelum memasuki Ramadhan.
Fajar kesekian yang tidak biasa kali ini ba’da subuh menguatkan tekad untuk jogging atau sekedar jalan pagi. Yak, kenapa harus ditekadkan? karena sejujurnya saya males hehehe. Ditambah lagi perasaan agak parno kalau keluar rumah setelah subuh sementara langit masih remang-remang. Ada kejadian yang membuat saya ngilu kalau melewati jalan yang biasanya saya lewati kalau jogging pagi hari.
Jadi suatu ketika masih duduk di bangku SMA, hari minggu pagi saya rajin jogging. Kala itu ingin ngambil trek agak panjang, dari rumah terus keluar jalan veteran, lalu ke sudirman. Tapi di pertengahan jalan, tepatnya di perempatan Taman Siswa, ada seseorang yang berdiri di bawah lampu lalu lintas. Dari jauh, orangnya tampak kusut, kusam, dan berdebu, kumal, dan keriting awut-awutan. Kondisi jalanan pagi minggu itu tidak sepi, ada beberapa orang berjarak dengan saya. Saya mencoba menghindar dari pandangan orang yang berada di bawah lampu lalu lintas itu, dan sudah mengambil lebih ke tengah jalan (jalanan masih lengang). Sudah lewat saya dari orang tersebut saya lari santai aja. Tapi saya mendengar deru yang gak biasa. Kemudian menoleh. Seketika itu juga saya lihat laki-lai awut-awutan itu berlari menuju saya sambil membawa kayu panjang, seperti hendak menerkam saya. Saya pun lari sekencang-kencangnya. Tapi braaaakkkk!!! Kayu panjang itu sukses menggampar punggung saya. Nyaris terjatuh, tapi saya tetap lari. Gak ada tuh yang nolongin saya. Beberapa saat menoleh lagi, dan laki-laki awutan itu berhenti berlari dan diam di tempatnya sambil terus memandangi saya dan ngoceh entah apa. Langsung aja belok kiri masuk ke arah jalan Taman Siswa yang memang lebih ramai karena di sana ada Lapangan Hatta (lapangan sepak bola yang sering dipakai keliling jogging oleh masyarakat). Air mata saya sudah menitik aja. Langsung cari mamang becak yang nganggur dan minta dianter pulang.
Punggung saya sih gakpapa walau perih, pulangnya dioles minyak kelapa oleh Mama. Tapi trauma itu kayaknya masih ada. Tiap kali jogging lewat perempatan itu, atau bahkan sepanjang jalan sikap saya selalu waspada. Ya begitulah.
Tapi morning heaven kali ini bukan bertitik pada keadaan traumatik saya. Lebih kepada pagi ini indah sekali. Keindahan pagi ini juga dipengaruhi oleh suasana hati dan quality time saya kepada keluarga. Setelah lelah jogging dan keringetan, saya gak langsung masuk ke rumah. Tapi duduk di tangga beranda depan, sambil tetap mendengarkan playlist dan menyepih keringat. Dilanjutkan dengan membaca email dari milis yang lucu, spontan, dan bikin ketawa. Ya, tawa riang pagi ini memang obat yang ampuh untuk membuang sementara rasa gak karuan di hati belakangan. Kemudian masuk ke dapur dan mulai membuat sarapan buat Abah, ditemani ayuk yang bikin minuman sambil ngobrol-ngobril. Yak, buatku ini quality time. Ngobrolin mulai dari yang penting sampai yang gak penting di dapur, dan masakan tetap enak hehehe
Kemarin Kota Palembang panas seharian, bahkan malam tak mampu menguapkan sisa panas dari muka bumi. Tapi subuh pagi ini beda. Anginnya kencang dan awan tebal. Hujan kemudian memang tidak terlalu deras, tapi hawa sejuk dan angin yang masih kesana kemari membuat dada rasanya lega. Rasa syukur menghambur. Lihat, setelah panas ada hujan. Setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah ujian ada kebahagiaan.
Dengan merasakan panas terik seharian kemarin sesungguhnya kita belum memasuki ujian apapun. Itu baru sehari, tapi terasa sudah 100 hari. Kenapa? karena kondisinya tidak enak, tidak nyaman. Tapi dalam kondisi tak enak dan tak nyaman itulah seharusnya logika pikir kita jalan. Yakni, ini panas baru beberapa jam saja. Bayangkan orang yang hidup di timur tengah. Musim panas mungkin rasanya berabad-abad. Merekapun yang merasakan panas menyengat setiap hari lama-kelamaan bisa beradaptasi, bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Dan lagi-lagi kembali kita pada yang namanya kesabaran dan logika yang harus jalan. Ujian kesabaran itu hanya terlihat ketika kita beramal, ketika kita mulai melakukan amal. Ujian kesabaran tidak akan bisa terlihat ataupun terasa manakala kita tidak beramal. Maka orang yang beramal mempunyai kesempatan menggeruk pahala yang banyak, antaralain pahala amal itu sendiri dan pahala bersabar ketika melakukan amal tersebut. Jadi bersabarlah! tumpukan pahala dan kebahagiaan sedang menantimu. :)
Pernah mendengar tagline Kita Semua Basodara dari Ambon??! Nah begitu juga di Palembang. Mungkin tagline yang sesuai adalah Wong Kito Galo. Menurutku ini sudah sangat sesuai. Di luar apa filosofi tagline ini ketika tercetus ataupun ramai diungkapkan di masyarakat, hari ini saya akan membuktikan tagline tersebut sangat sesuai dengan karakteristik orang Palembang.
Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri suatu acara kecil saudara saya, yakni perkenalan antara keluarga saudara saya dan keluarga laki-laki yang hendak meminangnya. Terus terang saya lupa istilah event ini apa dalam adat Palembang. Jadi, di sepanjang pertemuan antar dua keluarga ini, saya hanya mendengarkan mereka menyebutkan nama-nama sanak famili yang mempunyai posisi atau yang cukup dikenal. Sebut saja bapak A yang mantan pejabat anu, atau bapak B yang sering ceramah di sana, atau ibu C yang pengusaha itu, atau ibu D yang bekerja dimana. Nah sebut-sebutan nama-nama orang tersebut biasanya berawal dari menyebut alamat, lalu disebutlah nama bapak fulan yang cukup tenar di sekitaran alamat itu. Atau ketika menyebutkan status pekerjaannya, maka akan juga tersebut nama ibu fulanah yang juga bekerja di sana. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan akan bertanya, “Kenal dak?“. Hingga sampai pada titik dengan kalimat, “Oooh… dia itu masih sanak kami”. Sanak yang berarti saudara, biasanya hubungan darahnya masih bisa ditelusuri, jauh maupun dekat. Dan tiba juga pada satu konklusi dengan ujaran, “Oooh berarti wong kito galo ye“. Akan terdengar lucu dan unik, hingga kadang ada yang berujar, “dunia memang sempit”.
Nah tagline Wong Kito Galo ini akan mendekatkan keluarga-keluarga yang jauh, maksudnya jauh secara pertalian darah. Dan tagline ini juga membuat kita yakin satu hal bahwa sesungguhnya kita semua ini memang bersaudara, setalian darah dari keturunan Nabi Adam hahaha.
Begitulah seharusnya orang-orang yang sudah sering mengucapkan tagline seperti itu, hendaknya merasakan kedekatan persaudaraan, walau pertalian darahnya jauh atau malah tidak sedarah sama sekali. Ungkapan ini mengandung filosofis lain, bahwa kita didekatkan oleh yang namanya tanah Sriwijaya. Yang bersentuhan atau pernah ada andil hidup di bumi Sumatera Selatan. Orang yang pernah memiliki pengalaman fisik maupun membaur dengan Sumsel biasanya juga dengan cepat menghafal tagline Wong Kito Galo. Dan ini akan terbawa kemanapun dia berada. Misalnya mahasiswa kelahiran Sumsel yang kemudian kuliah di luar negri bertemu dengan mahasiswa lainnya yang juga kelahiran Sumsel. Biasanya mereka akan tanpa sengaja ada keterikatan persaudaraan. Bahkan membentuk persatuan mahasiswa Sumsel misalnya. Ada Musi ITB di Bandung, ada juga KEMASS di Universitas Al Azhar Kairo. Nah, hebatkan!! Kesamaan tanah asal bisa mendekatkan pertalian darah.
Suatu percakapan muncul di kepala saya. Begitu saja. Bahkan ide-ide untuk memposting blog saja sedang menguap oleh panasnya cuaca kota Palembang belakangan. Pagi sampai siang bisa sangat panas sampai 33 derajat celcius, sore hari hujan tumpah ruah.
“Hai, apa kabar?”
Lama tidak ku sapa rekan-rekan sejawat (dulu). Seonggok jasad di sini sedang merindukan kalian, entah bagaimana dengan kalian. Jika ini konsekuensi besar dari keputusan yang sudah diambil, maka baiklah.
“Hai, apa kabar?”
Kerap ku tanyakan kabarmu dari orang terdekatmu. Setidaknya aku tahu kamu sehat-sehat saja. Tidak tahu sampai kapan kita bisa bertahan dari pemisah bernama benteng ego.
Anyway, komunitas blogger wongkito.net menyelenggara kompetisi blog Pesona Sumatera Selatan. Dengan menulis apapun pengalaman atau cerita yang menarik atau unik tentang apapun yang berasal dari Sumatera Selatan. Kompetisi ini diadakan dalam rangka memperingati hari jadi Sumatera Selatan yang ke 66. Hadiah-hadiahnya sangat menarik, ada galaxy tab, blackberry, dan android. Untuk keterangan lebih lengkap bisa langsung membaca di wongkito.net