Oct
Tempat tinggal saya kebetulan masih di daerah perkampungan. Tapi secara geografis posisinya dekat dengan pusat kota. Mau ke mall atau ke pasar tradisonal bisa ditempuh dengan waktu pendek. Dulu kampung kami ini banyak ustadznya, banyak hafiznya, dan terkesan religius, mengingat sejarah kakek buyut yang sejak jaman pendudukan Jepang dan Belanda, mereka sudah bermukim di sini. Namun seiring berjalannya waktu, banyak sekali yang berubah. Karena berkembang biaknya manusia kian banyak, maka keturunan dari keluarga asli banyak yang tidak di sini lagi, “terpaksa” mencari hunian di tempat lain karena kampung kami sudah sesak. Pendatang-pendatang lain dari jawa maupun dari dusun sudah mewarnai, mengubah pola pikir, dan membentuk kebiasaan baru. Namun dampak positifnya lebih redup dari dampak negatif.
Alhasil makin kemari, kampung kami makin terkenal dengan daerah “texas” alias rawan. Kerap kali polisi keluar masuk kampung ini. Yang tersangkut jual-beli narkoba, minuman keras, judi, dan pernah juga kedatangan keluarga besar yang menuduh seorang perempuan di sini merebut suami orang. Ebuseett deh! *waktu denger berita ini, adegannya persis di sinetron.
Ada satu kebiasaan warga, yang bila ada hajatan, kendurian, ulang tahun, dan sejenis pesta lainnya sering mengundang hiburan berupa orgen tunggal (OT), yang musiknya serasa di klub malam. Waktu saya duduk di kelas 1 SMA sekitar tahun 2001, tetangga saya sedang ada hajatan menikahkan dua anaknya. Waktu itu, hiburan OT ini belum ada larangan main hingga dini hari sekali pun. Dari sore saya sudah mencari info apakah OT akan main malam ini, sekaligus memperingatkan keluarga tersebut agar sebaiknya tidak mengadakan. Tapi ternyata OT tetap jalan, saya naik pitam sampai datang ke keluarga mereka. Mereka bilang bahwa OT itu bukan mereka yang sewa, tapi orang lain yang uangnya hasil dari urunan warga. Saya gak habis pikir sama tetangga saya tersebut yang mau-maunya meminjamkan halaman rumahnya untuk pesta yang tidak diadakannya. Saya kesal bukan main, dan pulang sambil menangis karena kesal.
Dan hari ini, untuk yang kesekian kali, OT main lagi. Tapi lucunya, ini dalam rangka ulang tahun. Sabtu malam kemarin ada pesta yang menampilkan tari india, dan siang ini orgen tunggal. Saya heran dengan rangkaian pestanya yang melebihi rangkaian pesta pernikahan. Isu punya isu, ternyata yang punya hajatan ini adalah bos-nya pengedar narkoba di kampung ini dan kampung lainnya. Syukuran mungkin dipikirnya. Sementara rumah tetangga persis di sebelah rumah saya mengadakan walimatussafar syukuran akan naik haji. Dua acara yang bertolak belakang. Acara OT siang hari ini sangat ramai didatangi orang. Bahkan saya sampai tidak mengenal wajah-wajah pendatang, yang memang sepertinya sengaja mencari hiburan OT sekalipun berada jauh dari rumahnya. Motor-motor parkir sembarangan di sepanjang lorong. Botol minuman keras dimana-mana, orang menegaknya di tengah jalan tanpa rasa malu. Dan yang sudah setengah sadar oleh obat dengan semangatnya joget dan geleng-geleng kepala sepanjang musik bising dimainkan.
Memang sekitar tahun 2002 itu keluar peraturan bahwa musik OT hanya boleh di setel sampai pukul 5 sore, atau paling lambat sebelum maghrib, dan tidak ada OT di malam hari. Jika ada yang main OT malam, maka siap-siap saja selalu ada pengaduan ke kantor polisi, dan sekelompok polisi pasti datang ke TKP untuk membubarkan acara. Saya bersyukur bahwa sekarang di Palembang sudah sangat jarang OT di malam hari. Siang hari aja bikin sebel, apalagi malam hari. Tapi lain halnya ketika 2009 lalu saya KKN. Di kabupaten luar kota Palembang, OT masih boleh dimainkan di malam hari. Teman-teman KKN saya saat itu juga pernah ditawari tuak oleh bapak-bapak di sana tanpa rasa malu kepada pendatang. Ah, banyak sekali pergeseran moral yang terjadi karena kemajuan zaman. Sayangnya, orang-orang daerah belum sempat memfilter diri dengan kemajuan tersebut, sehingga dampaknya kelihatan lebih buruk.

Eriek
October 9, 2011 at 1:42 pm“Saya gak habis pikir sama tetangga saya tersebut yang mau-maunya meminjamkan halaman rumahnya untuk pesta yang tidak diadakannya. Saya kesal bukan main, dan pulang sambil menangis karena kesal.”
*puk2 indah :mrgreen:
Nike
October 10, 2011 at 10:16 ammelok puk-puk Indah,
tapi mungkin be ado duit pinjem tempatnyo?
suzannita
October 13, 2011 at 8:37 amaku mau nyanyi Alamat Palsu ah… kemana… kemana… kemana…