indah cerita
indahonly™

February 2012 archive

Latihan Foto

Minggu lalu sempet minjem kamera Nikon D90 punya sahabatku buat latihan foto, pas juga ada event keluarga. Mungkin untuk newbie macam saya rasanya ngok banget pake kamera pro nan mihil kayak gitu. Tapi ya apa boleh buat, yang bisa dipinjem kebetulan memang kamera yang bagus hehehe. Jadi, total baru dua kali saya menguasai penuh kamera ini, dalam artian gak dipinjem-pinjem orang lain. Pertama kali pake setelah dapet kursus singkat langsung terjun foto-foto akad nikah dan walimah yang empunya kamera. Sampai-sampai bahu kanan saya pegal-pegal selama dua hari. Ternyata jadi fotografer maupun kameraman pernikahan itu sulit ya, butuh energi dan stamina. Kemudian kali keduanya ya pekan lalu itu. Belajar sedikit-sedikit, mulai dari yang saya sukai, yaitu foto anak-anak! Memotret anak-anak termasuk sulit karena mereka yang susah mantep, tapi kadang justru pas dapet momen lucu mereka. Saya pamerkan tiga saja ya, soalnya yang lain jelek-jelek semua, maklum amatir. hehehe. Ini aja komposisi cahayanya masih kurang pas, diphotoshop dikit baru caem

(more…)

Kapan Terakhir Berbuat

Berada di masa dengan status gak jelas ini memang tidak enak. S1 sudah tamat setahun yang lalu, tapi koas belum juga dimasuki, kerjaan tetap juga mboh. Kemana-mana cuma punya satu jaket FULDFK yang berlogo kepala stetoskop yang sering dipakai dan sering ditanya-tanya orang. Sighh gak asik deh.

(more…)

Pake WhatsApp yuuukkk..

Waktu saya belum pake android, ada iklan ajakan dari Nokia di billboard gede sepanjang jembatan penyebrangan jalan arteri kota. Yaitu ajakan menggunakan aplikasi WhatsApp. Saya pikir ini aplikasi chatting untuk pengguna handset Nokia doang. Ternyata setelah billboard itu kini berganti, dan sekarang saya sudah menjadi pengguna aplikasi WhatsApp baru mengerti dan paham tentang what is whatsapp.

Jadi menurut wiki, WhatsApp adalah aplikasi messenger yang ada di smartphone dengan basic mirip BlackBerry Messenger. WhatsApp Messenger adalah aplikasi pesan lintas platform yang memungkinkan kita bertukar pesan tanpa membayar untuk SMS, karena WhatsApp Messenger menggunakan rencana data internet yang sama untuk email, browsing web, dan lain-lain, sehingga tidak menggunakan biaya untuk dapat tetap berhubungan. Aplikasi WhatsApp Messenger adalah pengiriman pesan yang menggunakan koneksi 3G atau WiFi untuk berkomunikasi tanpa harus mengeluarkan biaya. Dengan menggunakan WhatsApp, kita dapat melakukan chatting, file sharing, dan lain-lain.

Nah karena lintas platform ini, WhatsApp sangat cocok juga dijadikan sebagai aplikasi alternatif di setiap handset. Fitur chatting di beberapa handset biasanya bersifat terbatas, misalnya pengguna BlackBerry hanya bisa BBM-an sesama pengguna BlackBerry, tapi bisa juga dengan mendownload aplikasi WhatsApp ini sebagai alternatif jika ingin chatting ke pengguna handset lain yang juga telah menggunakan aplikasi Whatsapp.

WhatsApp ini juga sangat mudah. Dia langsung mendeteksi sendiri dari phone book kita, siapa-siapa yang sudah menggunakan aplikasi WhatsApp sehingga muncul di WhatsApp contact kita, tanpa perlu invite-invite lagi. Bisa bikin grup chat, push notifikasi, kirim foto, file, voice note, dll.

Nah, untuk pengguna Android, seperti saya misalnya, WhatsApp menjadi andalan. Karena data yang saya pakai berupa paket, tidak perlu memotong pulsa lagi, koneksinya berupa data atau Wifi. Aplikasi ini juga downloadnya gratis di appstore, appworld, atau android market. Aplikasi ini bersifat free trial selama satu tahun, dan untuk memperpanjang aplikasi di tahun berikutnya hanya membayar $1,99 USD/tahun atau kira-kira Rp.20.000. Yaa duit segitu buat apresiasi ke pengembang aplikasi kan gak terlalu besar ya dari kantong hehehe

 Sumber gambar : gugling

Motivasi Menulis

Kemarin, ahad 12 Feb, dateng ke acara Akademi Berbagi Palembang @AkberPLB, yang hari itu menggelar kelas tentang “motivasi menulis”. Menghadirkan Azzura Dayana, penulis novel yang salah satu judulnya Birunya Langit Cinta, dan Cinta Sang Penjaga Telaga. Awalnya mungkin terasa garing dan sedikit membuat saya berkali-kali nguap. Tapi kemudian ketika mulai memasuki dapur editor, obrol-obrolan mulai terasa cair dan mengalir. Saya juga jadi teringat pernah menulis cerpen yang berhenti di sepertiga awal, selain karena mentok juga karena sudah lewat masa tenggat. Ceritanya waktu itu pengen ikutan antologi. Tapi yasudahlah yaa, mari kita mulai bangkitkan menulis, mulai dari rajin ngapdet blog :D

 

Dari Rumah Sakit

Jadi ceritanya sejak jumat saya nungguin jaga keponakan, Hanifah 10 tahun, yang diopname gegara DBD. Saat dibawa ke UGD jumat dini hari sudah dalam kondisi setengah syok, tubuhnya dingin fan lesu. Walau hari jumat itu sempat dua kali drop, jumat malam kondisinya lebih stabil. Jumat itu hari yang cemas dan panik, denyut nadinya sempat lemah sekali (gak berasa), dan tekanan darahnya rendah.

Ini hari ke enam dirawat, alhamdulillah sudah pulih, gak panas lagi, trombosit normal, gak sakit perut lagi. Tinggal nunggu eksekusi dokternya aja untuk pulang. Aku yang jaganya aja sudah bosen. Soalnya sambil nunggu gak bisa kemana-mana. Kan pengen nonton film Jouney 2…

Silaturrahim dengan Guru

Hari kamis kemarin (2/2), setelah urusan tetek bengek perpanjang dan bikin sim kelar, saya dan Fikri mengunjungi SMA kami dulu, SMA Negeri 18 Palembang. Saya cukup excited sama penampilan sekolah ini sekarang. Dulu semua hanya ada kelas pagi, masing-masing ada 5 kelas. Tapi sekarang sudah banyak. Guru-guru baru yang tidak kami kenal juga banyak. Tapi alhamdulillah guru-guru yang mengajar kami ketika sekolah dulu sebagian masih nampak, dan masih mengenal kami, walaupun saya bukan siswa top saat itu.

Liat-liat, keliling, dan salim cium tangan ke guru-guru kami rasanya sangat luar biasa. Berasa keridhoan ilmu bertambah, harapan-harapan yang keluar dari mulut mereka adalah doa, senyum mereka adalah kebanggaan bagi kami.

Angkatan kami adalah angktan yang cukup terkenal dan pioner di berbagai kegiatan. Dan tragedi yang paling terkenal adalah angkatan kami ketika kelas 3 pernah melakukan demo dengan aksi tidak masuk ke kelas, oleh karena beberapa permasalahan dan kebijakan yang kurang pas. Setelah itu kepala sekolah mengumpulkan kami semua di aula dan melakukan tatap muka untuk saling menyampaikan pendapat kepada semua siswa kelas tiga. Sangat tegang dan alot. Guru-guru juga mungkin gak menyangka bahwa kami seberani dan sekompak itu melakukan aksi. Setelah menemukan titik kesepakatan, pertemuan hari itu diakhiri dengan salam-salaman dan maaf-maafan. Ada guru yang terlihat menahan air matanya, ada yang sudah tumpah, ada yang memeluk siswanya.

Setahun setelah kami tamat, akreditasi sekolah menurun. Menurut rumor, sejak diberlakukan tes masuk sekolah (tidak berdasarkan nilai uas dan kuota) banyak lobang-lobang tikus dari penyelenggara ujian. Dimana anak yang semestinya dianggap belum berkompeten dan tidak lulus bisa lolos masuk. wallahu ‘alam

How ever, saya tetap mencintai sekolah saya yang sedikit banyak telah mendampingi selama masa adolescent.

image