indah cerita
indahonly™

June 2012 archive

Dieng

Oh God! iri banget liat foto temen udah ke Dieng. Gue kapan? masih di sini aja! Izinin gue and my soulmate nginjekin kaki ke Dieng, Raja Ampat, atau minimal ke Gili pleasss dear my God…

*gigit bolpen*

Mimpi kamu! Tapi boleh dong, mimpi bisa jadi doa dan berbuah nyata, bukan?! hehe..

Mimpi Kamu!

Sebelumnya, saya kutip dulu tulisan mb Ainun dari sebuah milis yang saya ikuti:

- – - – -

Teman,

kalian percaya mimpi gak? Mimpi yang paling absurd sekalipun?
Kira-kira tahun 2000an saya nonton film Winona Ryder dan Richard Gere – Autumn in New York, dan melihat indahnya NW di film itu.
Sempat terpikir dan kemudian mimpi suatu saat saya ingin ke NY entah gimana caranya.
Menurut saya itu mimpi yang absurd karena saya gak punya uang cukup untuk ke LN, bahasa Inggris saya jelek, dan IPK saya pun biasa sehingga kemungkinan kecil dpt beasiswa. Kerja di NY? Tambah gak mungkin hahaa..
Pokoknya yang penting ngimpi, soal duit…boro2 buat ke LN buat kontrak rumah aja masih repot hahaaa
Tetapi saya memelihara hayalan itu, hingga suatu hari Kika saya tunjukkan gambar2 kota NY dan Kika nonton film home alone yang edisi natalan di NY. Akhirnya kami membuat statement berdua : bahwa suatu saat kami akan ke NY.
Hari ini dapat email dari Kedutaan Amerika, dan rute kunjungan selama IVLP salah satunya adalah NEW YORK! Walaupun baru saya yang berangkat, saya yakin entah gimana caranya Kika akan sampai ke New York.
Teman, masih percayakah dengan mimpi absurd kalian?
Selamat makan siang :)
***
- – - – -
***

“Mimpi Kamu!”, bisa dibaca dengan berbagai nada ambigu yang masing-masing akan memberikan makna berbeda. Coba bilang, “Mimpi Kamu!!”, tapi dengan nada tinggi dan menghardik. Rasanya seperi ada yang menghempaskan impian dan keinginan kita. Atau bisa juga bilang, “Mimpi Kamu”, dengan nada yang lebih lembut dan romantis, dengan “kamu” sebagai objek yang menerangkan kata kerja sebelumnya. Or, bilang “Mimpi Kamu”, dengan penuturan datar tegas, seperti mempertanyakan keberadaan “mimpi” itu sendiri.

Pernah punya mimpi? Jelas punya. Saya juga. Setelah rencana mewujudkan mimpi-mimpi saya berantakan tahun lalu, di awal tahun ini saya merenew segalanya dengan penuh ambisi, bahkan sampai lima tahun ke depan. Dan kemudian ambisi-ambisi, yang walau sudah ditanam sedalam-dalamnya dan dipupuk dengan rajin, masih bisa juga tak tumbuh. Saya melupakan sesuatu. Oleh sebab kita hidup tak sendiri, ada orang tua, ada saudara, ada keluarga, yang walau sudah saya perhitungkan dengan baik, dugaan hasilnya masih saja meleset. Yak, dari banyak kepentingan-kepentingan yang hadir, seyogyanya janganlah kita tabrakkan kepentingan-kepentingan itu. Seharusnya kepentingan-kepentingan yang ada kita selaraskan agar bisa jalan berdamping beriringan, meski akan ada yang dikorbankan.

Ya Tuhan, aku masih ingin sekolah lagi, sekolah yang sesuai dengan keminatan dan kecenderungan, masih ingin mengarungi tanah-tanah lain di bumi antah-berantah milikMu. Banyak cita-cita yang belum sampai. Semoga apa yang tertulis ini akan dibawa malaikat hingga ke langit.

 

Kalimat Positif

Sabtu malam lalu saya pergi ke resepsi pernikahan sahabat satu angkatan kuliah saya. Karena dalam satu angkatan kami masih merasa keterikatan yang kuat selain jumlahnya yang memang tidak terlalu banyak. Sebetulnya saya masih enggan-engganan untuk datang ke resepsi ataupun undangan pesta pernikahan kenalan teman-teman sekampus, terutama yang satu jurusan. Rasanya masih suka mendengar dengung-dengunan aneh, tatapan-tatapan ataupun senyuman-senyuman miris yang mungkin sebagian (tentunya) hanya perasaan saya saja. You know why, ah sudahlah saya juga enggan membahasnya.

Dari ke-galau-an saya malam itu, saya juga masih bertemu teman-teman yang memang betul-betul tulus menyapa, memeluk, ataupun bercanda. Lebih dari itu, mereka rindu pada saya. Tatapan tulus dan tidak pernah menyindir-nyindir atas keputusan besar yang saya ambil adalah segalanya bagi saya malam itu. Bertemu dengan orang-orang adalah terapi yang sedikit banyak menyakitkan, tapi yang demikianlah yang akan membuat saya kebal di kemudian harinya.

Entah bagaimana, besoknya dengan iseng me-wall teman saya di facebook. Awalnya sih membaca statusnya yang bernada menyemangati diri sendiri, it means that dia sedang tidak bersemangat atau ada problem yang membuat dia harus bertutur demikian. Saya menulis “Semoga harimu menyenangkan ^_^“. Dan detik berikutnya dia membuka chat box, dan bilang, “terimakasih kirimannya“. Sekali lagi saya me-wall teman yang lain, “Semoga harimu ceria ^_^“, juga mendapat tanggapan yang baik, bahkan lebih baik.

Seperti itulah hidup ya. Jika kita menjadi orang yang baik dan baik pada orang-orang, orang-orang pun akan baik pada kita. Hidup ini seperti cerminan. Saat kita bercermin dan kemudian tersenyum, cermin pun akan memberikan wajah tersenyum. Atau seperti berteriak di antara lereng yang memunculkan gema suara. Saat kita bilang kata-kata atau kalimat positif seperti “kamu baik”, gema suara juga akan memperdengarkan kata yang sama.

Jadi, untuk apa kita memikirkan atau bahkan berbuat hal-hal buruk, semua akan berimbas balik pada kehidupan kita. Ah, menyenangkan sekali saat seusai shalat kemudian berdoa dan menyebutkan nama keluarga, saudara-saudara, teman-teman, mendokan mereka dengan menyebutkan hal spesifik satu per satu.

Dari Abu Ad-Darda’  dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Dalam riwayat lain dengan lafazh:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.”

Hadist di dapat dari: keutamaan mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya.

Here I am

Entah mengapa, akhir-akhir ini suka sendu sendiri. Saya juga gak suka dengan keadaan seperti ini. Keluar rumah, bertemu orang-orang, menghadiri undangan-undangan kadang bisa menjadi terapi, kadang juga menjadi derita kian menjadi. Pekan lalu mendapat undangan menghadiri Sampoerna Academy Graduation, dan tiba-tiba choir-nya menyanyikan lagu yang ada di bawah ini. Dinyanyikan solo dengan gitar akustik saja bikin suasana jadi biru-biru gimanaaaa gitu. Lha ini malah dinyanyikan paduan suara, keren pulak! Ini bukan karena apa-apa sebetulnya, hanya sebab yang asimptomatis saja, tak diketahui sebab asalnya. Jika tidak salah ingat, lagu ini booming tahun 2004 di awal-awal baru masuk kuliah dulu. Ini juga yang membuat kampusku yang seperti hutan itu macam sendu dirasa hehe.

to be with you is all that i need, cause with you, my life seems brighter and these are all the things i wanna say i will fly into you arms and be with you till the end of time, Why are you so far away, you know it’s very hard for me to get myself close to you…

 

Mau Diberdayakan atau Memberdayakan?

Sudah dua puluh enam tahun lebih saya hidup di bumi Sumatera Selatan tercinta. Ada banyak kesempatan untuk ‘angkat kaki’ dari tanah leluhur ini, tapi belum juga dilakukan. Bukan karena cinta atau malah tak punya uang, tapi lebih kepada keterikatan hati. Saya juga menjadi saksi perubahan-perubahan menakjubkan yang terjadi selama dua puluh enam tahun terakhir. Dari yang tidak ada menjadi ada. Dari yang buruk menjadi indah. Dari yang biasa saja menjadi spekta. Bahkan momen event-event dunia pun sudah dilakoni Sumatera Selatan. Hebat bukan?!

Saat ini Sumsel sudah menjadi sorotan publik. Apalagi sejak telah berlangsungnya perhelatan akbar SEA Games di November 2011 lalu. Secara lokasi, Palembang cukup strategis. Cukup ditempuh satu jam dari Jakarta (sebagai ibu kota negara) dengan perjalanan udara. Secara agraris, Sumsel juga terkenal akan hasil bumi berupa karet dan kelapa sawitnya. Belum termasuk minyak bumi, batu bara, gas alam, dan lain sebagainya. Selain itu, Sumsel juga kaya akan nilai historis, dimana kita tahu bahwa kerajaan Sriwijaya dahulu kala berjaya hingga ke wilayah Malaysia hingga perbatasan Thailand. Kebudayaan asli yang sangat beragam dan sangat sesuai dengan kedaerahan Sumsel sendiri juga tidak sedikit yang terhitung sebagai potensi asli wilayah ini.

Lalu apa sih yang bisa kita lakukan terhadap hasil bumi, nilai historis, dan kebudayaan tersebut? Menjualnya? Mengolahnya? Atau dipakai sendiri? Bisa ketiganya. Sebagaimana halnya dalam menjual barang atau produk, maka kita perlu memperkenalkannya, dibungkus dengan cantik, dan dihidangkan dengan apik agar bisa diterima, dan harapannya agar orang lain suka. Demikian juga dalam “menjual” segala potensi yang ada di Sumsel ini. Ada juga faktor-faktor yang harus diperhatikan yang kadangkala menjadi batu sandungan. Salah satunya adalah faktor keamanan yang masih dinilai minus di Sumsel ini. Keamanan bisa dikatakan salah satu pintu gerbang penilaian bagi investor yang datang ke suatu tempat. Sekalipun tanah kita terbuat dari emas tapi jika tidak aman bagi keselamatan jiwa, orang lain juga mikir-mikir dulu untuk datang. Tapi kita bisa kok ya memperbaiki sistem keamanan di Sumsel, mulai dari lini paling kecil di rumah, di lingkungan tetangga, baru ke masyarakat luas. Namun usaha ini juga perlu dukungan banyak pihak. Terutama dalam hal promosi tentang “Sumsel Aman”. Eh, ini sebetulnya bisa-bisanya saya saja bikin tagline seperti itu. Tapi bener deh, itu penting. Promosi keamanan lingkungan ini tentu sangat bisa dilakukan melalui media sosial dan media digital lainnya, asalkan tepat sasaran.

Perbaikan lingkungan masyarakat dan penyediaan ruang terbuka hijau juga penting. Karena penyakit masyarakat, misalnya masalah keamanan tadi, itu juga bermula dari kurangnya ruang bersosialisasi masyarakat di ruang-ruang terbuka. Bisa kita lihat sekarang ini, lapangan-lapangan bola, taman-taman bermain, dan lainnya, lebih banyak dibangun ruko-ruko karena dianggap lebih menguntungkan bagi yang empunya. Tapi kenyataannya, kondisi sosio-kultural mulai tergerus tanpa disadari, dan kemudian menyebabkan terjadinya perangai yang tidak halus, tidak halus tindak-lakunya, hingga ke hal-hal buruk yang banyak terjadi.

Tapi sekali lagi. Kita sangat bisa koq membangung keamanan di Sumsel ini. Semua masyarakat dibangun motivasinya untuk menjadi manusia lebih baik, semua masyarakat diberdayakan untuk saling menjaga lingkungan dan memperbaiki akhlak. Hingga pada suatu titik kita bisa menyandang gelar sebagai provinsi yang sangat aman dan sangat baik untuk pembangunan serta pengembangan usaha. Jika kita baca sejarah, maka akan ditemukan kisah-kisah dimana rakyat pribumi bisa hidup berdampingan dengan orang-orang pendatang walau tetap butuh adaptasi. Dan kita bisa implementasikan saat ini. Satu kunci pintu gerbang terbuka, pintu berikutnya tidak akan sulit ditembus. Ayo Sumsel bisa!!

 

http://sumselprov.go.id/  |  http://dishubkominfo.sumselprov.go.id/  |  http://relawantik-sumsel.org/home